Adlinur’s Weblog

Mengabdi untuk Dunia Pendidikan

Arsip untuk ‘Umum’ Kategori

SPIRIT BULAN MEI

Posted by adlinur pada Mei 12, 2009

 

Adli Nur ( 08 Mei 2009 )

1. Bulan ke 5, tahun Masehi,

    Mei berseri, catatan sejarah,

   Dua  Mei Hardiknas, diperingati,

   Bangkit Negeri, 20 Mei bersejarah,

 

2. Bangun semangat, spirit kebangsaan,

    Raih kemerdekaan, perjuangan bangsa,

    Kebangkitan Nasional, media perjuangan,

   Harapan kebebasan, dari penjajah durjana ,

 

3. Historis Harkit-Nas, embrio kemerdekaan,

Para pejuang, menggelar Prakarsa,

Spirit Hardik-Nas, suatu permodalan,

Rakyat berjuang, harapan Berjaya,

 

4. Semangat perjuangan, raih makna,

Negara diproklamir, 17 Agustus,

Tersiar menggeuma, Indonesia merdeka,

Dunia menerima, RI anggota PBB,

 

5. RepublikIndonesia, program dilabuh,

Rakyat serius, perdaya kemandirian,

Geuma pendidikan, ilmu diraih,

Dasar jelas, dalam UUD 45,

 

6. Pasal 31, Pendidikan & Kebudayaan,

Payung hukum, arah pengelola,

Jenjang pendidikan, formal – non formal,

Kurikulum Mengajar, pedoman sekolah,

 

7. Kelompok sekolah, Umum & Kejuruan,

Seiring berjalan, mencetak generasi,

Program umum, lanjutkan ke Perkuliahan,

Program Kejuruan, mengisi TK Madiya,

 

8. Perguruan Tinggi, wadah pembekalan,

Estafet pimpinan, pengkaderan anak bangsa,

Pendidikan Menengah, mensuply kebutuhan,

Tenaga terapan, untuk dunia kerja,

 

9. Pendidikan non-formal, berjalan juga,

Pengajaran semasa, kader profesional,

Waktu singkat, keterampilan karya,

Modal nyata, praktek membekal,

 

10.Selain harapan, tercipta nilai akademik,

Pendidikan spesifik, menghiasi budi-karsa,

Ilmu seni, tradisi yang unik,

Ditata apik, pengajaran kasanah bangsa,

 

11.Indonesia terkenal, manca negara,

Kesenian estestika, aneka ragam,

Setiap daerah, memiliki karya budaya,

Masyarakat dunia, penuh kekaguman,

 

12.Syukur nikmat, Puji-pujian,

Indonesia menawan, bangsa besar,

Kebanggaan diri, Inayah Tuhan,

Negara aman, warga leluasa,

 

13.Subhannallah, Rahmat Illahi,

Bumi pertiwi ,RI tercinta,

Tanah airku, Gemah Ripah Roh Jinawi,

Berkah Illahi, sejak merdeka,

 

14.Banyak hikmah, menjadi dalil,

Darat dan air, banyak sumber harta,

Segenap kekayaan, jadi bekal,

Harus syukuran, mengaih karunia,

………………………………………..

Jakarta, 08 Mei 2009

Adli Nur,

Ditulis dalam 1, Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

fungsi taman

Posted by adlinur pada Mei 6, 2009

 

Adli Nur ( 08 Mei 2009 )

1. Hijau daun, tumbuhan taman,

Arena bermain, lingkungan kota,

Asri indah, suatu harapan,

Kesan dambaan, setiap manusia,

 

2. Wahai warga, peka lingkungan,

Rajin menanam, lahan terbuka,

Semai bibit, berbagai tumbuhan,

Untuk keindahan, primadona kota,

 

3. Halaman kosong, tanah lapang,

Hayo mamfaatkan, taman berbunga,

Mari berbuat kenyamanan kampung,

Pohon pelindung, mamfaat ganda,

 

4. Tanaman produktif, fungsi guna,

Menghijau kota, mamfaat permanent,

Sekali berdayung, dalam arena,

Berjuta makna, menjadi moment,

 

5. Asri indah, dedaunan hijau,

Dada berdebar, nikmat rasa,

Nuansa manusia, menepik galau,

Bersuasana segar, di taman kota,

 

6. Jakarta raya, Metropolitan,

Rumah berhimpitan, kota Jakarta,

Tanah lapang, tidak tersisakan,

Hanya halaman, sepetak saja,

 

7. Namun begitu, wahai saudara,

Jangan menterlantar, ruang rindang,

Mamfaatkan lahan, penuh upaya,

Rapi tertata, tanaman lindung,

 

8. Halaman terhiasi, warna-warni,

Taman Mini, karya cipta,

Rumah ke rumah, patut dihiasi,

Semua Rt, Rw hijau ber-aroma,

 

9. Apabila itu, mampu teralisasi,

Jakarta berseri, penuh dinamika,

Selain itu, ada taman dikhususi,

Wilayah tertentu, wajib dipelihara,

 

10.Tamon indah, bermakna ganda,

Paru-paru kota, fungsi utama,

Hijauan taman, puspa raga,

Timbul aroma, penyejuk rasa,

 

11.Udara sejuk, sekitar taman,

Arena bermain, bercumbu asmara,

Di pagi hari, daunan berembun,

Kawanan burung, riuh bercengkrama,

 

12.Alangkah indah, Ciptaan Illahi,

Taman berseri, satu diantaranya,

Kita makhluk, wajib mensyukuri,

Harus sudi, melakukan budidaya,

 

13.Masa depan, harus diprediksi,

Dunia tragedi, bila tidak dipelihara ,

Tanah gundul, pohon dihabisi,

Serakah sekali, tak bertenggang rasa,

 

14.Ada insan, yang lupa diri,

Hutan dibabati, lupa daratan,

Anak cucu, yang mewarisi,

Suasana bumi, gersang nestapa,

 

15.Nasib alam, sedih sekali,

Hutan digunduli, penanaman tiada,

Masa-bodoh, tidak perduli,

Merana bumi, pemanasan global,

 

16.Efek langsung, memanas dunia,

Timbul juga, embrio penyakit,

Flu burung-Flu babi, menerpa,

Menyerang manusia, nyawa pamit,

 

17.Efek ke depan, pemanasan global,

Kutub Utara-Selatan, es mencair,

Akan hilang, beberapa kepulauan,

Bencana datang, terus mengalir,

 

18. Begitu peneropong, analisa ilmuwan,

Ulah oknum, di beberapa negara,

Memperlakukan alam, tanpa pemeliharaan,

Hutan ditebang, lapisan ozon sirna,

 

19.Polusi alam, pencemar lingkungan,

Asap pembakaran, limbah tak tertata,

Polusi udara, sungai wadah buangan,

Hujan datang, banjir meremdam kota,

 

20.Berkenaan itu, wahai saudaraku,

Mari bersatu, perduli lingkungan,

Limbah ditata, penghijauan dibaku,

Tanah yang subur, dibuat rindang,

 

21.Demi kesehatan, alam berseri,

Turunan generasi, estafet ceria,

Turut memelihara, anjuran Illahi,

Hidup di bumi, mengabdi Yang Kuasa,

 

22.Mengabdi Khalik, cinta sesama,

Anjuran agama, saling menjaga,

Hormat-menghormati, raih makna,

Stabilitas terbina, ibadah dapat dikerja,

Jakarta, 08 Mei 2009

Adli Nur,

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

POTRET GURU & TANTANGAN

Posted by adlinur pada April 28, 2009

 
Adli Nur
A. Bapak Pendidikan:

1. Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan,
85 tahun silam, dirikan Taman Siswa,
Sistem Among, yang mendasarkan,
Kodrat hidup, anak & kemerdekaan,

2. Empat azas, perjuangan Taman Siswa,
Suatu Formula, diracik terpadu,
Yang Pertama, seorang m’ngatur waktu,
Yang kedua, didik anak jadi manusia,

3. Pengajaran ke 3, jangan hanya cerdas pikiran,
     Dalam bimbingan, azas bersama,
      Tak memisah, terpelajar dg kerakyatan,
     Usahakan kekuatan diri sendiri, Ke 4 nya,

B. HUT PGRI & Hari Guru :

4). 25 November ulang tahun ke 62,
PGRI kita, Organisasi bersama,
Wadah guru, pembina anak bangsa,
Koordinasi bersama, hal pengajaran,

5. Tanggal yang sama, peringati hari guru,
Tempat penyatu, tahun ke empat belas,
Selamat hari jadi, 2 wadah para Cik Gu,
Semoga Engku-guru, nasib akan cerah,

6.  Mari berdoa, tulus ikhlas,
Mohon ke Allah, jalan kan lancar,
Jaya diri, anak didik cerdas,
Sesuai perintah, UU yang keluar,

7.  Mari bersama, rembuk agenda,
Untuk mengejar, yang lebih pantas,
Ikuti tehnologi, jaman beredar,
Kuasai komputer, internet yang pintar,

8. Tehnologi informatika, dan Komunikasi,
Era-Globalisasi, harus dirilis,
Peran guru, tidak terbatasi,
Sepanjang waktu, dalam belajar,

 C. Peran Guru Masa Penjajah:

9. Th 1912 lahir, Persatuan Guru Hidia Belanda,
Klub anggota, gr bantu, gr desa & Pimpinannya,
Semangat perjuangan, yang menggelora,
Wujud nyata, Indonesia merdeka,

10. Th 1932,  Persatuan Guru Hidia Belanda,
Berubah nama, jadi Persatuan Guru Indonesia,
Nasionalisme tinggi, dorongan hidup merdeka,
Eksis nama, sampai akhir kolonial,

11. Sewaktu Jepang, menjajah Nusantara,
Model Belanda, tidak berlaku,
Segala kumpulan, tidak boleh ada,
Kumpulan Guru Indonesia, tiada aktivitasnya,

12. Peran Guru, masa peralihan,
Semangat penting, nilai strategis,
Bangkitkan, semangat kebangsaan,
Siswa binaan, tanam jiwa Nasionalisme,

D. Peran Guru masa Kemerdekaan:

13.) 17 Agustus, tahun empat lima,
Gaung bergema, Indonesia merdeka,
Semangat Proklamasi, begitu membahana,
Tokoh pembina, mencetus agenda,
14). 25 November, di Surakarta,
Kongres pertama, Guru Indonesia,
Disepakati, hilangkan beda latar belakang,
Beda tamatan, Politik, dan Agama,

15. Mereka melebur, suasana ke-Indonesiaan,
Demi kemajuan, tujuan mengabdi,
Kemajuan bangsa, negara Indonesia,
Aman sejahtera, adil dan ber-ilmi,

16. PGRI lahir, dalam suasana Revolusi,
Siap hadapi, sekutu yang menggoda,
Ingin mengambil alih, Indonesia kembali,
Melalui RRI, guru memberi misi kerja,

17. Tiga tujuan, guru di PGRI,
Kumandang isi, urutan makna,
Tujuan Pertama, Pertahankan RI,
Berikut lagi, pertinggi pendidikan bangsa,

18. Membela Hak, nasib buruh & guru,
Hajat terpadu, tujuan ke tiga,
Semangat PGRI, serius selalu,
Masa depan dituju, adil sejahtera,

19. PGRI organisasi, perjuangan profesi,
Terus mengalami, bebagai dinamika,
Faktor internal, tidak terhenti,
Umar Bakri, Julukan Guru sekolah,

20.Tuntutan kesejahteraan, guru perlahan tertepi,
Respon ditampi, di pernyata,
Kesejahteraan, dalam konteks kompetensi,
Wajib diikuti, demi anak bangsa,
21. Beberapa indikator, terlihat kini,
Guru profesi, di akui negara,
Presiden SBY, telah menandatangani,
Pengesahan bukti, peraturan PP-nya,

22. Ditetapkan UU, Sistem Pendidikan Nasional,
Nomor 20, tahun dua ribu tiga,
Hak – Kewajiban, jelas tertulis,
Kesejahteran logis, akan lahir nyata,

23. PP 19, tahun dua ribu lima,
Standar kerja, untuk pendidikan,
Pengakuan kompetensi, Sertifikasi, & Kesra Guru,
Sudah barang tentu, kita mensyukurkan,

E. Guru & Tantangan Global:

24. Tugas & Peran Guru, semakin berat,
Tantangan perangkat, bio tehnologi,
Guru sebagai, komponen utama,
Harus kuasai, Imtek & Imtag,

25.Keadaan sosial, bangsa saat ini,
Kondisi guru, kurang perhatian,
Terlihat dampak, pada generasi,
Rendah sekali, kualitas SDM-nya,

26. Kurang perhatian, masyarakat awam,
Profesi keguruan, tak pernuh diakui,
Hingga menyebab, pendidikan lamban,
Enggan menyumbang, perhatian & materi,

27. Kenakalan siswa, sering terjadi,
Acap diindikasi, guru tak bijak membina,
Padahal itu, bukan masalah guru sendiri,
Keluarga & Wali, juga ikut cetak suasana,
28. Ada kesan, guru dikambing hitamkan,
Letak kegagalan, di proses mengajar,
Hingga sering terjadi, siswa berantam,
Alpa pangawasan, di rumah tangga,

29.Beberapa solusi, perlu diusulkan,
Tingkatkan perhatian, profesi guru,
Hingga menarik, minat awam,
Untuk berkecimpung, ke profesionalisme guru,

30. Keterbatasan dana, tidak dijadikan alasan,
Mengharap kejayaan, SDM harus tertata,
Kesejahteraan guru, diupayakan,
Dalam anggaran, diwujud realisasinya,

31. Teori Kependidikan, harus ditopang,
Kualitas & kesejahteraan, wajib ada,
Era Globalisasi, dunia berkembang,
Berbagai gerakan, pendidikan tiang utama,

32. Peduli Guru, dalam gerakan,
Pakar pendidikan, dan media massa,
Pengambil keputusan, ikut berperan,
Dalam mengembang, generasi dibina,

33.Pendidikan, proses pembetulan mental-prilaku,
Insan dilahir, di dunia fana,
Sejak bayi, dalam kandungan Ibu,
Pendidikan menyatu, sampai akhir hayatnya,

34. Menyadari, hal yang demikian,
Para pejuang, telah pasang agenda,
Setelah Indonesia, di Proklamirkan,
Bidang pendidikan, mulai dipugar,
35.  Banyak kritik, pendidikan sekarang,
Acap dipaparkan, debat publik,
Catatan kecil, tentang pendidikan,
Siswa terkurung, kemerdekaan tercabik,

36. Conny Seniawan, Imam Prasodjo,
Ujar bersama, pendidikan mines Orientasi,
Arah pendidikan, lepas sasaran,
Transkul-tural  , bias meniti,

F. Peran Orang Tua dalam Pendidikan:

37.   Peran Orang-tua, keberhasilan anak,
 Siap menyimak, dampingi anak belajar,
Jangan lepas, tanpa kontak,
Akan rusak, bila tidak di sapa,

38.   Berusaha mengerti, segala kegiatan,
Dengan pantauan, belajar berkelanjutan,
ORTU harus, meningkatkan komunikasi,
Setiap hari, memonitor anandanya,

39.   Sekali waktu, datang ke sekolah,
Hubungan pantas, bina bersama,
Berusaha mengerti, anak dipapah,
Guru  di kelas, laporan ditanya,

40.  Terlibat aktif, dalam kegiatan,
Memberi sokongan, proses belajar,
ORTU berperan, dalam keberhasilan,
Anak tersanjung, semangat memancar,

41.   Proses belajar, anak di rumah,
Tempat di kemas, ruangan ditata,
Boleh mendengar, keluh kesah,
Turut memecah, masalah ananda,
42.   Usaha ciptakan, aktivitas kegiatan,
Yang sejalan, agenda dilatih,
Dengan begitu, ORTU tahu perkembangan,
Suatu keberhasilan, akan diraih,

G. Kurikulum Pembelajaran:

 43. Keberhasilan pelaksanaan, kurikulum sekolah,
Kunci masalah, ditangan guru,
Tanpa upaya, peningkatan yang searah,
Tidak mustahil, lepas arah yang dituju,

44. Keinginan mereposisi, tenaga guru,
Membutuh waktu, relatif panjang,
Banyak faktor, yang harus dipersatu,
Kultur guru, suatu tantangan,

45.  Program peningkatan, kemampuan guru,
Setiap waktu, ditangani serius,
Sesuai kondisi, daerah tertentu,
Kunci ilmu, dibuka habis,

46.  Siswa subyek, dari pembelajaran,
Model pemaparan, kreatif dan inovatif,
Guru sebagai, fasilitator pendamping,
Saling berunding, kelompok tak pasif,

47.  Bangun aspek, dalam kebutuhan,
Tiga sejalan, jaringan terpadu,
Kognitif, Afektif & Psikomotorik,
Semua aspek, pacu bersatu,
H. Guru Ideal & Profesional:

48.  Guru ideal, pendidikan profesional,
Pengabdian total, dalam mengajar,
Tidak berprinsif, asal sudah beri pengajaran,
Bersikap persetan, terhadap siswanya,

49.  Soal pandai, itu relatif,
Yang lebih arif, pahami dunia siswa,
Para siswa, remaja kreatif,
Bisa memilih, suasana bersahaja,

50.  Bila siswa gagal, raih prestasi,
Tak menyalahi, siswa dan orang tua,
Harus menyadari, guru intropeksi,
Mungkin terjadi, salah metoda,

51.   Guru harus, memahami dunia remaja,
Dalam belajar, ambil strategi,
Ciptakan suasana, diskusi bermakna,
Materi diajar, siswa mandiri,

52.  Guru ideal, tidak bersikap diktatoran,
  Sepanjang pengajaran, aksi menggelegar,
  Guru ideal, mengajar penuh keluwesan,
  Siswa termotivasi,  minat belajar,

53.   Tiga kriteria, untuk guru ideal,
Penuh kejujuran, ajari siswanya,
Setia dalam tugas, pengabdian,
Mampu b’wawasan, benahi model mengajar,

54.   Guru ideal, sahabat  siswa yang baik,
Tidak tertilek, pekerjaan semata,
 Jaman yang maju, ilmu mendidik,
 Saling menarik, siswa & gurunya,

55.  Guru profesional, pekerjaan serius,
  Menguasai jurus, bidang keahlian,
  Pekerjaan profesional, bersyarat khusus,
  Ilmu berstatus, ada kode etiknya,
56.  Guru profesional, tecermin dipengabdian,
 Tugas yg dijalankan, sesuai metode & Materi,
  Selain itu, penuh tanggung jawab,
  Guru sigab, niat Lillahi Ta’ala,

57.  Nawaitu bin niat yang suci,
 Amal ter-abadi, Kesra akan terima,
  Jangan mengeluh, sak dalam hati,
 Takkan berarti, mungkin akan sia-sia,

58. Tunaikan tugas, sepenuh hati,
 Di Jaumil akhir, Soalan ditanya,
 Semua insan, diminta tanggungjawaban,
 Atas pekerjaan, selama di dunia,

59. Kuala Deli, Jalan ke hulu, *)
Orang melayu, meramu pantun,
Kekecewaan, laksana polisi tidur,
Harus dilewati untuk maju,

60. Ditepi laut, banyak kerang,  *)
Ditepis ombak, air samudra,
Kesulitan besar, masa sekarang,
Sesuaikan dengan, zaman berubah,

61. Pakaian kerja, baju celana,   *)
Pergi ke ladang, membawa pacul,
Pekerjaan, akar suatu rencana,
Hasilnya berbuah, atau mandul,

62. Menyanyikan, lagu madah,  *)
Tiap hari, siang dan malam,
Resiko hidup, selalu ada,
Lompat jangan, takut terbenam,

63. Ada jalan, ada jembatan,   *)
Ada ngarai, tebing dan ujung,
Sulit bisa, menjadi gampang,
Kemauan, membuka jalan,

64. Dalam hidup, kita belajar,  *)
Keras usaha, dan berjuang,
Hari tua, kita mengejar,
Bayangan sore, semakin hilang,

65. Sinar bulan, makin redup,  *)
Bila kabut, datang merambat,
Menuggu tua, masa hidup,
Kita sudah, akan terlambat,

66. Hari cerah, di waktu petang, *)
Curah hujan, ditengah malam,
Nasib hidup, bisa bertukar,
Walau susah, masa sekarang,

67. Hari siang, sibuk di jalan,    *)
Istirahat, di waktu malam,
Kalau ada, kegagalan,
Tak usah mencari, kambing hitam,

68. Di air mentah, kuman dan basil, *)
Hati-hati, menjaga makan,
Cuma sekali, kita berhasil,
Seribu kegagalan, dilupakan.

69. Demikian, potret guru tergambarkan,
Dalam ungkapan, cerita bermadah,
Mohon maaf, kalau berbuka-bukan,
Hanya tujuan, membuat pencarah……..

*) Kutipan dari  buku “Kebijakan dalam 1001 Pantun”, John Gawa Maret 2006.
   Jakarta, 24 November 2007
   Adli Nur, SMK Negeri 45 Jakarta

Ditulis dalam Umum | 1 Komentar »

Delapan Hal Gratis di Jakarta

Posted by adlinur pada Agustus 22, 2008

Jakarta merupakan kota yang mahal dan serba uang, tidak ada hal yang bisa dinikmati gratis. Kesan itu diperkuat hasil survei Mercer, perusahaan konsultan global untuk urusan sumber daya manusia dan jasa keuangan, belum lama ini yang menyatakan, bagi warga negara asing, Jakarta merupakan kota termahal kedua di ASEAN setelah Singapura. Benarkah semuanya sudah serba uang? Tidak juga, sesungguhnya sejumlah hal masih tersedia gratis. Di sini saya sebutkan delapan. Jika Anda temukan yang lain, tambahkan di kolom komentar di akhir tulisan ini.

Menikmati semilir angin di Monas: Jakarta tidak punya banyak taman. Kota seluas 650 kilometer persegi ini jumlah tamannya bisa dihitung dengan jari. Itu pun kebanyakan tidak terurus, malah menjadi tempat mangkal gelandangan, lokasi SPBU (stasiun pengisian bahan bakar untuk umum), pedagang kaki lima, bahkan tempat operasi pekerja seks. Hanya ada sejumlah taman yang cukup terawat seperti Taman Menteng, Suropati, atau Monas.

Taman Monas (Monumen Nasional) di Jakarta Pusat termasuk yang paling luas, cukup terawat (dipagar keliling), serta punya sejumlah fasilitas gratis yang bisa dinikmati pengunjung. Di Monas Anda bisa duduk-duduk-duduk di taman yang berpohon rindang, merasakan embusan angin sambil menikmati kicau burung. Anda juga bisa bertandang ke kandang rusa totol yang terletak di sisi selatan. Selain rusa, di situ ada berapa ekor burung merak serta puluhan burung merpati. Beberapa kandang merpati juga terdapat di sisi barat.

Masih di sisi barat, di sana terdapat kolam air mancur menari dan menyanyi yang dilengkapi tempat duduk bagi penonoton. Pertunjukan laser dari air mancur menari dan menyanyi itu berlangsung setiap malam Minggu pukul 19.00-21.00. Pada Minggu pagi, Monas menjadi tempat olahraga yang ramai. Jika Anda ingin memijat telapak kaki dengan batu kerikil, Monas menyediakan jalur khusus berbatu kerikil. Sayangnya, sejumlah titik dari taman ini, terutama di sisi timur dekat Stasiun Kereta Api Gambir, menjadi tempat ‘tinggal’ gelandangan. Siang hari, di bawah pohon di sisi timur itu, banyak gelandangan berteduh. Anda juga harus waspada terhadap orang yang hilang ingatan jika berkunjung ke Monas.

Window shopping dan toilet gratis: Mal tumbuh bagai cendawan di musim hujan di Jakarta. Daerah resapan air dalam sekejap bisa disulap jadi mal. Tempat-tempat itu menyediakan barang murah sampai barang kelas butik yang harganya selangit. Mal mewah umumnya berada di Jakarta Selatan, sebut saja Plasa Senayan, Senayan City, dan Pondok Indah Mal. Di dalam mal ada puluhan toko atau gerai seperti Gucci, Bvlgari, Cartier, Chanel, Chloe, Christian Dior, dan Christian Lacroix. Selain window shopping, banyak orang mampir ke mal sekadar untuk ngadem dari udara Jakarta yang panas atau numpang ke toliet. Mal umumnya tidak memungut tarif untuk penggunaan toliet meski ada beberapa mal, seperti Mal Atrium Senen di Jakarta Pusat, yang menetapkan tarif untuk penggunaan toilet.

Berkunjung ke tempat ibadat tua bersejarah: Tempat-tempat ibadat, terutama masjid dan gereja, berusia tua yang punya kaitan dengan sejarah perkembangan atau penyebaran agama tersebar di Jakarta. Sebut saja misalnya Gereja Tugu di Jalan Tugu, Jakarta Utara. Gereja ini dibangun tahun 1725 oleh Pendeta Belanda Van der Tydr untuk para budak yang pernah bekerja di Malaka di bawah kekuasaan Portugis. Tahun 1742 gereja ini hancur akibat pemberontakan China di Batavia dan dibangun kembali tahun 1747 oleh Pendeta Moudidts Mohr.

Dalam sejarah perkembangan agam Islam ada sejumlah masjid yang memainkan peran penting, antara lain Masjid Luar Batang yang terletak di perkampungan Luar Batang, Jakarta Utara, atau yang dulu merupakan wilayah permukiman orang Jawa di luar tembok Kota Batavia. Masjid itu dibangun tahun 1739. Setiap Maulid, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, banyak warga dari tempat sekitar itu maupun yang berasal dari jauh berziarah ke masjid yang dikeramatkan tersebut. Lalu ada Majid Angke di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Jakarta Barat. Masjid ini memiliki gaya arsitektur dan hiasan yang cantik yang merupakan paduan gaya Arab, Eropa, China dan Jawa. Masjid ini dibangun pada tahun 1761. Meski Anda bisa masuk gratis ke tempat-tempat itu, sebelum masuk sebaiknya permisi dulu kepada pengurus bangunan-bangunan tersebut.

Tambah wawasan dengan berkunjung ke perpustakaan: Sejumlah perpustakaan, terutama yang berkonsep open access, bisa dikunjungi gratis. Perpustakaan seperti ini umumnya dikelola universitas atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti perpustakaan milik fakultas-fakultas di Universitas Indonesia (UI), Library@Senayan di Gedung A Departemen Pendidikan Nasional di Jenderal Sudirman (semua koleksi Library@Senayan merupakan koleksi The Bristis Council Indonesia yang dulu terletak di Gedung Widjodjo Center dan kemudian ditutup), Perpustakaan STF Driyarkara di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat (untuk buku-buku filsafat), atau perpustakan ELSAM di Pejaten Barat, Pasar Minggu (untuk koleksi buku hukum dan HAM). Namun karena bukan anggota, Anda tentu hanya punya akses terbatas terhadap koleksi-koleksi yang ada. Anda, misalnya, tidak diperkenankan pinjam atau membawa buku keluar dari perpustakaan tetapi mungkin dibolehkan untuk memfotokopi.

Nonton pameran atau konser seni budaya: Konser musik biasaya bertarif mahal. Namun sejumlah pusat kebudayaan seperti Bentara Budaya Jakarta (BBJ) yang dikelola Kelompok Kompas Gramedia, serta pusat-pusat kebudayaan milik kedutaan asing seperti Erasmus Huis (Belanda), Goethe Institut (Jerman), atau CCF (Perancis) sering menyelenggarakan acara seni budaya berupa seni pertunjukan dan pameran secara gratis. Informasi tentang jadwal acara itu ada di harian Kompas dan The Jakarta Post.

Jejak peradaban: Jika Anda tertarik menelusuri sejarah perkembangan Kota Jakarta, jelahi kawasan Kota (yang sebagian masuk wilayak Jakarta Utara dan sebagian lagi masuk Jakarta Barat). Di sana ada Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan cikal-bakal Jakarta, bangunan-bangunan tua bekas benteng, gudang, dan perkantoran pada zaman Belanda. Selain bangunan bergaya Eropa, di kawasan Kota seperti di Glodok, Pinangsia, atau Pekojan, juga bisa ditemukan bangunan bergaya China, Arab, atau perpaduan di antara ketiganya.

Ladies night. Club atau tempat hiburan malam bertebaran di Jakarta. Untuk menarik pengunjung, sejumlah tempat hiburan malam atau klub punya program ladies night, yaitu perempuan bisa masuk tanpa harus bayar cover charge dan dapat first drink gratis. Program ladies night ini biasanya pada malam Kamis.

Berkunjung ke museum: Ada belasan museum di Jakarta dan sesungguhnya berkunjung ke museum itu tidak gratis kecuali jika ada program promosi seperti yang tengah terjadi mulai 15 Juli lalu sampai 14 Agustus mendatang. Sebuah perusahaan swasta menyediakan 30.000 tiket gratis bagi masyarakat untuk berkunjung ke lima museum yang ada di Jakarta selama periode tersebut. Kelima museum itu adalah Museum Nasional, Museum Tekstil, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Wayang. Meskipun tidak gratis, harga tiket masuk ke museum sangat murah. Harga tiket masuk museum untuk orang dewasa umumnya hanya Rp 2.000 dan untuk anak-anak Rp 600.
Egidius Patnistik

Ditulis dalam Umum | 1 Komentar »

Tipe Ibu Manakah Anda?

Posted by adlinur pada Agustus 6, 2008

Peran ibu dalam membesarkan anak-anak memiliki pengaruh yang sangat besar. Bagaimana kepribadian dan cara Anda menjalani hidup dipercaya akan menjadi kerangka saat menjalankan peran sebagai orangtua. Hal tersebut bisa menentukan akan menjadi seperti apa anak-anak saat dewasa nanti dan generasi apa yang akan terbentuk di masa datang.

Berdasarkan penelitian global yang dilakukan oleh PT Kimberly-Clark terhadap lebih dari 5.000 ibu dengan bayi sampai anak berusia 3 tahun serta ibu hamil dari seluruh dunia (2.000 di antaranya adalah ibu-ibu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia), terungkap enam tipe peranan ibu. Model peranan ibu ini secara luas menjelaskan perbedaan cara pengasuhan ibu secara global, termasuk persepsi mereka mengenai anak dan apa yang terbaik untuk mereka.

Walau hanya sedikit wanita yang seutuhnya masuk dalam salah satu tipe peranan, semua ibu akan mendekati satu tipe peranan dan sebagian besar wanita memiliki sifat gabungan antara dua atau lebih peranan.

The Playful Mother
Ia spontan, tidak banyak pikiran, suka bereksperimen, trendi, dan hangat.
Ia menginginkan anaknya menjadi: selalu ingin tahu, ceria, aktif, suka bereksplorasi, mengejutkan.
Sikap menjadi orangtua: sebagai teman bermain sama halnya menjadi ibu, ia mendorong rasa ingin tahu bahkan kenakalan, dan menciptakan lingkungan yang merangsang perkembangan bayi.
Di Asia, tipe ibu ini lebih memiliki rasa sayang dan menyenangkan serta tidak banyak pikiran dibandingkan ibu-ibu di negara lain. Di Asia Tenggara terdapat 18,1 persen ibu dengan tipe ini.

The Natural Mother
Ia ceria, pintar, penuh kasih sayang, dan penyayang.
Ia menginginkan anaknya menjadi bahagia, mandiri, terbuka.
Sikap menjadi orangtua: Menggunakan pendekatan yang santai dalam membesarkan anak, menunjukkan kasih sayang, mudah bergaul sebagai teman dan ibu.
Tipe ibu ini di Asia ada 22,9 persen dan mereka berjuang untuk membentuk lingkungan yang lebih sempurna bagi anaknya. Mereka juga mendorong anak-anak mereka agar bisa lebih mandiri.

The Protective Mother
Ia berhati-hati, rajin, mengabdi, lembut, konservatif, tidak suka risiko.
Ia menginginkan anaknya menjadi innocent, lembut, berharga, terlindungi.
Sikap menjadi orangtua: Ia ingin menjadi sumber perlindungan dan rasa nyaman untuk anaknya. Anak adalah segalanya baginya.
Protective mother di Asia lebih mandiri dan sensitif pada perannya dan lebih terfokus pada anak-anaknya dibandingkan dengan ibu tipe ini di belahan dunia lainnya. Menurut survei ada 15,7 % ibu tipe ini di Asia Tenggara.

The Independent Mother
Ia aktif, suka berpetualang, berani, mandiri.
Ia menginginkan anaknya menjadi enerjik, sehat, mandiri, selalu ingin tahu, seseorang yang suka berpetualang.
Sikap menjadi orangtua: Ia percaya dengan kemampuannya dan bersikap tenang sebagai ibu. Menjadi ibu baginya adalah petualangan yang benar-benar ia nikmati.
Tipe ibu ini di Asia berbeda dengan di negara lain karena mereka lebih kompetitif dan terfokus pada perkembangan intelektual anak dan berkeinginan untuk dianggap sebagai ibu yang trendi. Menurut survei ada 12,3 % independent mother di Asia Tenggara.

The Ambitious Mother
Ia berorientasi pada tujuan, sukses, gaya, suka menuntut.
Ia menginginkan anaknya menjadi lebih besar, lebih baik, satu langkah lebih baik, seorang pemenang.
Sikap menjadi orangtua: Disiplin. Bangga bisa memberikan yang terbaik untuk anaknya. Ia mengarahkan impian yang besar dan bekerja keras untuk menyalurkan bakat anak agar sukses di masa depan. Ibu dengan tipe ini ada 16,2 % di Asia Tenggara.

The Competent Mother
Ia bertanggung jawab, rasional, berpikiran jernih, teliti, dan selalu memiliki informasi terkini.
Ia menginginkan anaknya dibesarkan dengan baik, bersih, dapat tampil, dan menguasai banyak keterampilan.
Sikap menjadi orangtua: terencana dengan baik, lingkungan yang sempurna, bangga bila dapat memberikan anaknya permulaan yang baik.
Ibu tipe ini di Asia lebih memfokuskan perhatian pada intensitas bermain di atas standar, sementara di negara lain ibu tipe ini lebih fokus terhadap perkembangan intelektual.

(diambil dari kompas.com edisi Rabu, 6 Agustus 2008)

Ditulis dalam Umum | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.